Sabtu, 18 Mei 2013

Liburan di Jogja Part1


JOGJA 1 february-5 February 2013

Kota yang penuh dengan unsur seni dan adat istiadat budaya jawa. Meski beberapa tempat terdekat telah penulis jelajahi namun rasanya 5 hari berlibur di jogja belum ampuh untuk menghilangkan penat saya dan teman-teman seusai ujian akhir semester (UAS). Banyaknya kawasan objek wisata yang murah meriah menjadikan Jogja diburu wisatawan ataupun para backpacker. Mulai dari objek wisata terdekat hingga terjauh selalu saja ada keindahan untuk dijelajahi dan tak lupa untuk merekam setiap sudutnya.Kali ini penulis akan sedikit menjabarkan pengalamannya berlibur di kota jogja, selamat membaca…


Everyday is Sunday, sebutan tersebut adalah sebutan para wisatawan yang telah mengunjungi kota jogja. Memang tak salah jika sebutan tersebut telah membius wisatawan local seperti saya, di sepanjang jalan Malioboro tentunya menjadi pusat kegiatan para wisatawan berbelanja,menikmati kuliner,menyaksikan seniman angklung, berfoto bersama seniman cosplay ala jogja ,debus dan beberapa kreatifitas menarik lainnya. Pelosok kota jogja terlalu berkesan untuk dijelajahi, ada saja hal menarik yang saya temukan.


Keramahan penduduknya pun menjadikan wisatawan nyaman, meski terkadang beberpa supir becak berulang kali menawari wisatawan untuk menumpangi becaknya. Tujuan mereka sama , pastinya untuk menjual jasa untuk para penumpang berkeliling dan berwisata menuju dagadu jogja, rumah batik,bakpia pathok,keraton,taman sari, alun-alun kidul dan wetan serta beberapa tempat terdekat lainnya. Tarif perjalanan untuk berkeliling ke tempat-tempat tersebut secara bersamaan tidaklah mahal bagi wisatawan lokal dari Rp5000-Rp10000.


Tak lengkap rasanya jika kekota gudeg namun tidak mencicipi gudegnya, untuk menemukan makanan yang satu ini sangatlah mudah. Jalan Wijilan menjadi pusat rumah makan gudeg khas jogja, disepanjang jalan menuju keraton ini berjejer rumah makan milik penduduk setempat. Namun sayangnya untuk mencicipi menu gudeg,semur telor dan krecek tidaklah murah, alias ada harga ada rasa. Jika ingin nuansa kuliner yang berbeda namun menu masih sama, wisatawan hanya tinggal menuju ke malioboro, warung lesehan ini buka sejak pukul 11:00 malam. Menu yang ditawarkan pun bervariasi dan menu unggulannya yaitu gudeg komplit, untuk harga relative murah dan sesuai rasa . Aktifitas perdagangan di sepanjang jalan malioboro rasanya tak pernah berhenti, semenjak pagi hingga malam. Lorong pertokoan yang ramai dipagi hari dapat beralih menjadi lesehan untuk kuliner di malam hari.Jangan khawatir jika merasa lapar ditengah malam karena jogja selalu memanjakan lidah pengunjungnya.

“Kopi dicampur arang?” mungkin terdengar aneh dan sedikit mengerutkan  dahi. Kopi Joss sebutannya, warung kopi yang buka dimalam hari ini selalu ramai didatangi pengunjung. Deretan lesehan warung kopi letaknya tepat dibelakang stasiun tugu dan hanya perlu berjalan dan menyebrang dari malioboro. Warung kopi Joss  Lik Man adalah yang paling terkenal, bahkan pelangganya pun terlihat ramai. Sepertinya pemilik warung sukses menarik hati para pelanggannya. Terlihat dari banyaknya konsumen memenuhi lesehan, cukup berbeda dengan lesehan tetangga yang sepi hanya beberapa konsumen.entah apa yang membuat kopi joss lik man begitu ditunggu-tunggu pecinta kopi hingga menjadi favorit pengunjung.
 Look at this!!

Selain mengunjungi tempat-tempat kuliner yang dekat dengan malioboro, tiada salahnya berjalan menuju benteng  Vredeburg. Benteng tersebut paling dekat dan strategis bagi wisatawan yang masih bingung dengan rencana perjalanan mereka. Jika penginapan anda di sekitar Malioboro tentunya cukup dekat karena untuk menuju kesana hanya perlu berjalan kaki, menaiki becak ataupun andong. Bagi pejalan kaki waktu yang ditempuh sekitar  15-20 menit tergantung dari  cara berjalan . Jika berjalan dengan santai tentu memakan waktu lama namun tidak terasa lelah, jika ingin cepat sampai anda bisa berjalan cepat namun menguras tenaga. Pengalaman penulis selama disana rasa letih karna berjalan tidak begitu terasa, mungkin karena semua tujuan pengunjung adalah berwisata maka  perasaan gembira, senang, santai ikut mempengaruhi fikiran. Rasa terburu-buru dan kesal seolah gugur. Seperti salah satu plang yang tertera “anda memasuki jalan ramah pejalan kaki”. Plang tersebut menjadi tombak para pengunjung ataupun penduduk local untuk mematuhi tata tertib tersebut. Hasilnya wisatawan dapat bebas dan nyaman melintasi jalan karena tak perlu khawatir sahut-sahutan suara klakson kendaraan yang berlalu lalang seperti di Jakarta.

Menuju gerbang benteng Vredeburg

Bangunan tua yang kokoh merupakan ciri peninggalan sejarah dari Belanda. Gaya arsitektur benteng ala Eropa, serta tembok kokoh dengan pilar-pilar besar akan menjadikan penjelajahan anda berkesan dan belajar banyak tentang sejarah kependudukan Kolonial Belanda di Jogja. Dalam sejarahnya benteng ini didirikan pada  tahun 1760,dengan letak bangunan benteng yang mengelilingi Keraton Jogjakarta fungsinya untuk mengontrol Keraton agar tidak mengganggu kekuasaan kolonial pada saat itu. untuk masuk dan menikmati suasana didalam benteng Vredeburg ini  pengunjung hanya perlu membayar tiket 2000 rupiah perorang. Selain itu setiap sudut bangunannya juga menarik untuk dijadikan objek bagi para  photographer ataupun pengunjung yang  hanya ingin sekedar berfoto disekitar benteng. Kawasan benteng ini masih dekat dengan kawasan gedung Taman Pintar, tepatnya benteng Vredeburg berada didepan dan gedung taman pintar berada di belakangnya. Ternyata di kawasan belakang benteng terdapat gerbang menuju Taman pintar. Penulis kurang paham apakah gerbang tersebut memang disatukan secara sengaja agar akses lebih mudah atau tidak. Sehingga penulis tidak perlu membeli tiket untuk memasuki kawasan Taman Pintar.
Peta kawasan Benteng Vredeburg

Taman Pintar menjadi sarana edukasi yang tepat untuk para guru dan murid menambah wawasan dan ilmu dengan cara yang menyenangkan. Para orangtua pun dapat mengajak anak-anak mereka mengunjungi taman pintar ini. Karena terbuka untuk umum tak perlu khawatir bagi para mahasiswa atau remaja yang ingin bernostalgia pelajaran dan memperkaya ilmu. Harga tiket masuk untuk anak-anak 8000 rupiah dan dewasa 15000 rupiah.
 Gerbang arah depan Taman Pintar

Tidak lengkap pula rasanya jika ke Jogja tapi belum mengunjungi Malioboro. Tepatnya di Jalan Malioboro. Bagi para wisatawan lokal dan asing tempat ini menjadi incaran dan pusat penjelajahan. Jangan heran jika malam hari banyak wisatawan berfoto-foto di plang jalan Malioboro, atau di aksara jawa. Jadi  tetaplah abadikan momen anda di Jogjakarta.
 Penulis Narsis di Aksara Jawa

Sepetinya Tugu yang satu ini juga tidak boleh dilewatkan, namun sayangnya penulis hanya sempat melewatinya saja tanpa sempat turun dan mengabadikan momen di Tugu Jogjakarta. Letak tugu tersebut di perempatan Jl.pangerang mangkubumi, Jl.Jendral Soedirman, Jl.A.MSangaji dan Jl.Diponegoro.

 Tugu Jogja nih

Karena letaknya yang sangat strategis banyak para wisatawan berfoto untuk mengabadikan momen serunya di malam hari ataupun di pagi hari saat kendaraan belum terlalu ramai.Namun saat penulis berkunjung kesana ternyata tugu tersebut sudah dikelilingi dengan pagar , meskipun hanya pagar pendek seperti terikat dengan kain berwarna merah dan tiang yang tidak terlalu tinggi. Fungsinya untuk menjaga dari para pengunjung yang nakal ataupun jahil mencoret-coret, ataupun berekspresi berlebih di tugu Jogja. Jika anda berwisata ke kota Jogja , jangan lupakan momen seru ini sebagai kenangan akhir yang manis di kunjungan anda.

Cukup sampai disini dulu ya, untuk beberapa objek wisata yang sudah penulis sebutkan diatas namun belum dijelaskan akan segera penulis susun dan post kan. Terimakasih atas kunjunganya..


2 komentar:

  1. aduuuh aturan sampeyan menjelaskan juga penginapan yang bagus d jogja dmna ?? next project buat blog tntang perbedaan Jogja dan Jakarta kayaknya bgus. . .

    BalasHapus
  2. Wah... nice blog neng... tetep semangat nulos ya... (^.^)

    BalasHapus

yang sempat ,tolong isi yaa komentarnya . . .