JOGJA 1 february-5 February 2013
Kota yang penuh dengan unsur seni dan adat istiadat budaya
jawa. Meski beberapa tempat terdekat telah penulis jelajahi namun rasanya 5
hari berlibur di jogja belum ampuh untuk menghilangkan penat saya dan
teman-teman seusai ujian akhir semester (UAS). Banyaknya kawasan objek wisata
yang murah meriah menjadikan Jogja diburu wisatawan ataupun para backpacker.
Mulai dari objek wisata terdekat hingga terjauh selalu saja ada keindahan untuk
dijelajahi dan tak lupa untuk merekam setiap sudutnya.Kali ini penulis akan
sedikit menjabarkan pengalamannya berlibur di kota jogja, selamat membaca…
Everyday is Sunday, sebutan tersebut adalah sebutan para
wisatawan yang telah mengunjungi kota jogja. Memang tak salah jika sebutan tersebut
telah membius wisatawan local seperti saya, di sepanjang jalan Malioboro
tentunya menjadi pusat kegiatan para wisatawan berbelanja,menikmati kuliner,menyaksikan
seniman angklung, berfoto bersama seniman cosplay ala jogja ,debus dan beberapa
kreatifitas menarik lainnya. Pelosok kota jogja terlalu berkesan untuk
dijelajahi, ada saja hal menarik yang saya temukan.
Keramahan penduduknya pun menjadikan wisatawan nyaman, meski
terkadang beberpa supir becak berulang kali menawari wisatawan untuk menumpangi
becaknya. Tujuan mereka sama , pastinya untuk menjual jasa untuk para penumpang
berkeliling dan berwisata menuju dagadu jogja, rumah batik,bakpia
pathok,keraton,taman sari, alun-alun kidul dan wetan serta beberapa tempat
terdekat lainnya. Tarif perjalanan untuk berkeliling ke tempat-tempat tersebut
secara bersamaan tidaklah mahal bagi wisatawan lokal dari Rp5000-Rp10000.
Tak lengkap rasanya jika kekota gudeg namun tidak mencicipi
gudegnya, untuk menemukan makanan yang satu ini sangatlah mudah. Jalan Wijilan
menjadi pusat rumah makan gudeg khas jogja, disepanjang jalan menuju keraton
ini berjejer rumah makan milik penduduk setempat. Namun sayangnya untuk
mencicipi menu gudeg,semur telor dan krecek tidaklah murah, alias ada harga ada
rasa. Jika ingin nuansa kuliner yang berbeda namun menu masih sama, wisatawan
hanya tinggal menuju ke malioboro, warung lesehan ini buka sejak pukul 11:00
malam. Menu yang ditawarkan pun bervariasi dan menu unggulannya yaitu gudeg
komplit, untuk harga relative murah dan sesuai rasa . Aktifitas perdagangan di
sepanjang jalan malioboro rasanya tak pernah berhenti, semenjak pagi hingga
malam. Lorong pertokoan yang ramai dipagi hari dapat beralih menjadi lesehan
untuk kuliner di malam hari.Jangan khawatir jika merasa lapar ditengah malam
karena jogja selalu memanjakan lidah pengunjungnya.
“Kopi dicampur arang?” mungkin terdengar aneh dan sedikit
mengerutkan dahi. Kopi Joss sebutannya,
warung kopi yang buka dimalam hari ini selalu ramai didatangi pengunjung.
Deretan lesehan warung kopi letaknya tepat dibelakang stasiun tugu dan hanya
perlu berjalan dan menyebrang dari malioboro. Warung kopi Joss Lik Man adalah yang paling terkenal, bahkan
pelangganya pun terlihat ramai. Sepertinya pemilik warung sukses menarik hati
para pelanggannya. Terlihat dari banyaknya konsumen memenuhi lesehan, cukup
berbeda dengan lesehan tetangga yang sepi hanya beberapa konsumen.entah apa
yang membuat kopi joss lik man begitu ditunggu-tunggu pecinta kopi hingga
menjadi favorit pengunjung.
Look at this!!
Selain mengunjungi tempat-tempat kuliner yang dekat dengan
malioboro, tiada salahnya berjalan menuju benteng Vredeburg. Benteng tersebut paling dekat dan
strategis bagi wisatawan yang masih bingung dengan rencana perjalanan mereka.
Jika penginapan anda di sekitar Malioboro tentunya cukup dekat karena untuk
menuju kesana hanya perlu berjalan kaki, menaiki becak ataupun andong. Bagi
pejalan kaki waktu yang ditempuh sekitar
15-20 menit tergantung dari cara
berjalan . Jika berjalan dengan santai tentu memakan waktu lama namun tidak
terasa lelah, jika ingin cepat sampai anda bisa berjalan cepat namun menguras
tenaga. Pengalaman penulis selama disana rasa letih karna berjalan tidak begitu
terasa, mungkin karena semua tujuan pengunjung adalah berwisata maka perasaan gembira, senang, santai ikut
mempengaruhi fikiran. Rasa terburu-buru dan kesal seolah gugur. Seperti salah
satu plang yang tertera “anda memasuki jalan ramah pejalan kaki”. Plang
tersebut menjadi tombak para pengunjung ataupun penduduk local untuk mematuhi
tata tertib tersebut. Hasilnya wisatawan dapat bebas dan nyaman melintasi jalan
karena tak perlu khawatir sahut-sahutan suara klakson kendaraan yang berlalu
lalang seperti di Jakarta.
Menuju gerbang benteng Vredeburg
Bangunan tua yang kokoh merupakan ciri peninggalan sejarah
dari Belanda. Gaya arsitektur benteng ala Eropa, serta tembok kokoh dengan pilar-pilar
besar akan menjadikan penjelajahan anda berkesan dan belajar banyak tentang
sejarah kependudukan Kolonial Belanda di Jogja. Dalam sejarahnya benteng ini
didirikan pada tahun 1760,dengan letak
bangunan benteng yang mengelilingi Keraton Jogjakarta fungsinya untuk
mengontrol Keraton agar tidak mengganggu kekuasaan kolonial pada saat itu.
untuk masuk dan menikmati suasana didalam benteng Vredeburg ini pengunjung hanya perlu membayar tiket 2000
rupiah perorang. Selain itu setiap sudut bangunannya juga menarik untuk
dijadikan objek bagi para photographer
ataupun pengunjung yang hanya ingin
sekedar berfoto disekitar benteng. Kawasan benteng ini masih dekat dengan
kawasan gedung Taman Pintar, tepatnya benteng Vredeburg berada didepan dan
gedung taman pintar berada di belakangnya. Ternyata di kawasan belakang benteng
terdapat gerbang menuju Taman pintar. Penulis kurang paham apakah gerbang tersebut
memang disatukan secara sengaja agar akses lebih mudah atau tidak. Sehingga
penulis tidak perlu membeli tiket untuk memasuki kawasan Taman Pintar.
Peta kawasan Benteng Vredeburg
Taman Pintar menjadi sarana edukasi yang tepat untuk para
guru dan murid menambah wawasan dan ilmu dengan cara yang menyenangkan. Para
orangtua pun dapat mengajak anak-anak mereka mengunjungi taman pintar ini.
Karena terbuka untuk umum tak perlu khawatir bagi para mahasiswa atau remaja
yang ingin bernostalgia pelajaran dan memperkaya ilmu. Harga tiket masuk untuk
anak-anak 8000 rupiah dan dewasa 15000 rupiah.
Gerbang arah depan Taman Pintar
Tidak lengkap pula rasanya jika ke Jogja tapi belum
mengunjungi Malioboro. Tepatnya di Jalan Malioboro. Bagi para wisatawan lokal
dan asing tempat ini menjadi incaran dan pusat penjelajahan. Jangan heran jika
malam hari banyak wisatawan berfoto-foto di plang jalan Malioboro, atau di
aksara jawa. Jadi tetaplah abadikan
momen anda di Jogjakarta.
Penulis Narsis di Aksara Jawa
Sepetinya Tugu yang satu ini juga tidak boleh dilewatkan,
namun sayangnya penulis hanya sempat melewatinya saja tanpa sempat turun dan
mengabadikan momen di Tugu Jogjakarta. Letak tugu tersebut di perempatan
Jl.pangerang mangkubumi, Jl.Jendral Soedirman, Jl.A.MSangaji dan Jl.Diponegoro.
Tugu Jogja nih
Karena letaknya yang sangat strategis banyak para wisatawan
berfoto untuk mengabadikan momen serunya di malam hari ataupun di pagi hari
saat kendaraan belum terlalu ramai.Namun saat penulis berkunjung kesana
ternyata tugu tersebut sudah dikelilingi dengan pagar , meskipun hanya pagar
pendek seperti terikat dengan kain berwarna merah dan tiang yang tidak terlalu
tinggi. Fungsinya untuk menjaga dari para pengunjung yang nakal ataupun jahil
mencoret-coret, ataupun berekspresi berlebih di tugu Jogja. Jika anda berwisata
ke kota Jogja , jangan lupakan momen seru ini sebagai kenangan akhir yang manis
di kunjungan anda.
Cukup sampai disini dulu ya, untuk beberapa objek wisata
yang sudah penulis sebutkan diatas namun belum dijelaskan akan segera penulis
susun dan post kan. Terimakasih atas kunjunganya..





