Rabu, 19 Oktober 2011

Sekitar pukul 02:30 pagi

Bus melaju cepat mengantarkan kami ketempat tujuan , setelah sampai di persimpangan kami turun dan tak banyak yang harus dilakukan, hanya menunggu mobil kecil yang melintas dan mengantarkan kami ke desa kecil tujuan kami. Sambil menunggu, beberapa dari kami tawar menawar dengan tukang becak motor atau yang lebih dikenal dengan nama (bentor),cukup menjemukan karna aku tak begitu paham dengan percakapan diantara mereka. Namun karna bus mini tak kunjung datang akhirnya kami memutuskan menaiki bentor tersebut.

Kami mulai melaju dengan kendaraan unik ini, dengan kecepatan dibawah rata-rata sekitar 20km/jam. Dibantu dengan sedikit pencahayaan sederhana sehingga temaram ini membuat pengemudi harus lebih berhati-hati. Untungnya masih banyak lampu-lampu jalan yang menerangi traffic kami.

Aku harap ini perjalanan yang aman dan tidak terjadi sesuatu apapun, sambil ditemani obrolan si pengemudi kami mendengarkan keluh kesahnya. Meski aku berasal dari jawa namun seperti sebelumnya dialek si pengemudi membuatku harus memahi makna tuturannya. Tak banyak yang aku tau namun aku mengerti dan menangkap sedikit kisah perjalanan hidupnya. Kemudian kami kembali memperhatikan jalan yang saat itu kami melewati alun-alun kota yang sunyi, senyap, hening dan tenang. Dari alun-alun kami melewati pasar kota yang jaraknya jauh dari desa. Saat itu jalan lenggang dan bebas hambatan, tentu saja kosong karena kami berada disana saat pukul 03:15. Berbeda dengan siang hari yang ramai dipenuhi kendaraan.

Kanan kiri lampu jalan setia menemani kami yang masih seperempat perjalanan. Tak mau kalah dengan sinaran lampu, bulan pun seolah berjalan dan taburan bintang-bintang temani track kami. Diiringi dengan angin malam yang menyapu lembut wajah kami. Tangan dan kaki pun ikut merinding karena dingin, entah berapa derajat disana.
Alur mulai berkelok ke kiri dari arah pasar kota, dengan pemandangan yang berbeda dari sebelumnya, hawa pedesaan mulai tercium dan di sisi kanan kami aliran kali kecil yang mayoritas penduduknya mengandalkan air tersebut. Di sisi kiri kami jurang yang menjorok sedikit adalah tambang pasir yang sebagian dari warga nya juga bekerja menambang pasir. Sungguh eksotika alam yang mewarnai alur perjalanan kami.

Sinaran lampu seperti mulai padam, rumah-rumah kecil saling berjauhan satu sama lain ,tak banyak penduduk desa yang memasang lampu didepan teras rumahnya. Dingin pun mulai mencekam, suasana berubah mistis karena pengemudi masih saja bercerita dan menyelipkan cerita-cerita horor yang menjelasakn bahwa alur yang kami lewati saat itu memang pernah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun kami harap akan cepat sampai pada tujuan desa kami.

Tak banyak kendaraan yang berlalu lalang, hanya satu/dua kuda besi yang lewat, pencahayaan mereka sedikit membantu kami karena kami harus berhati-hati dalam perjalanan. Sekali lagi aku harap cepat-cepat sampai tujuan . Sudah 1 jam kami diatas kendaraan, tidak lama lagi mulai berbelok ke kanan , aku yakin beberapa Km lagi kami akan segera sampai karena kemuning padi mulai terlihat jelas di sisi kami. Ini adalah final dari jalur kami beberapa  jejeran rumah sudah terlihat dan disanalah kami akan tinggal dan yeaah akhirnya sampai dan selamat.
Saat itu aku sempat berfikir “Selamat tinggal lampu temaram, tepian kali, jurang sungai dan cerita horor,,, Fiiiuuuuuhhhhh . . . ”

Inilah seulas kisah yang dapat aku gambarkan . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yang sempat ,tolong isi yaa komentarnya . . .